Friday, July 20, 2007

Cinta Nasi Kuning



Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di sebuah kompleks perumahan negeri antah berantah.
Umur mereka sudah tidak muda lagi.
Sang suami mungkin sudah berumur lebih dari 70, sedangkan istrinya sekitar 60-an.
Di sekitar mereka ada beberapa gerobak lain yang juga menjual makanan untuk sarapan pagi.
Tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka yang paling sepi.

Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya selalu melewati gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak ada yang istimewa. Cukup sederhana. Jualannya pun standar.
Setiap pagi pula, sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu sama. Sang suami duduk di luar gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau ada pembeli, sang suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah istrinya) dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya menyiapkan nasi kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk diberikan pada sang pelanggan. Kalau sang pembeli ingin nasi kuning itu dibungkus, sang istri menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus, dan menyerahkan nasi bungkusan itu pada suaminya untuk diserahkan pada sang pelanggan.

Saat sedang sepi pelanggan, pasangan suami-istri itu duduk diam.
Sesekali jika istrinya agak terkantuk-kantuk, suaminya mengurut punggung istrinya.
Atau jika suaminya berkeringat, sang istri dengan sigap mengambil sapu tangan dan mengelap keringat suaminya.

Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial. Sangat standar.
Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli masi kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih karena cinta mereka yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.

Dalam kesederhanaan, kala susah dan sedih karena tidak ada pelanggan, mereka tetap bersama. Sang suami tidak pernah memarahi istrinya yang tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah marah karena gerakan suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia bahkan memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan.

Mereka selalu bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun

Hingga hari ini, sudah 10 tahun saya lewati tempat itu, mereka masih tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu bersikap sama.
Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan di saat susah.

Jika Anda berkunjung ke Negeri antah berantah, Anda bisa mampir ke jalan raya komplek Taman Berantah Indah. Tidak susah mencari gerobak mereka yang sederhana.
Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan. Mereka berjualan sejak pukul 07.00 hingga siang hari . Jujur, nasi kuning mereka sangat standar & tidak selengkap gerobak nasi kuning lain di sekeliling mereka.
Namun, cinta kasih mereka membuat makanan yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang begitu tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka tetap saling menguatkan.

Sebuah kisah cinta nasi kuning yang luar biasa.

Thursday, July 12, 2007

SELAMAT ULANG TAHUN

Hari ini, Kamis 12 juli 2007.....
Mas jati ulang tahun yang ke 46, udah pasti selama 46 tahun perjalanan mas Jati sudah banyak asam garam yang telah dirasakan, perjalanan panjang itu harus tetap berlanjut hingga semua yang mas Jati cita dan cintakan tercapai semua, menikah udah, punya anak yang pinter udah, juragan dealer motor udah, boss upt bahasa itb udah, DOKTOR? kapan mas?........ semoga tahun ini ya mas, lanjut wakil dekan, dekan, wakil rektor, REKTOR? nggak usah jadi rektor aja ya mas ribet banyak rivalnya hehehe, tapi langsung lompat jadi dirjen, lanjut mentri deh, amin..... selalu berbuat kebaikan untuk keluarga, sahabat, kerabat, lingkungan, bangsa dan negara ya mas.... semoga deh SUKSES YA KANG MAS......

Thursday, May 24, 2007

I miss you

Walking to the path of life
full of colors
blue... white...red...and others

the wind told me to stop
I said NO
blue... white ... red .. and others

you told me this is the wrong path
I have my wind and spirit
blue... white...red...and others

She told me a word of love
I have my destiny and soul
blue... white...red...and others

since then I heard your spell and spirit
left is hell, right is heaven, but then you were in silent
blue... white...red...and others

Should I say goodbye?
Should I stay or go?
blue... white...red...and others

Whisper me your magic words,
The chatter box will listen
I kind of missing you

Tuesday, May 15, 2007

Sepi

Dua ribu tujuh sudah berlalu beberapa bulan,
Rasanya baru kemarin mulai,
desertasi belum kelar,
stress menggerayangi terus dari waktu ke waktu

Dan lagi, bapak telah berpulang ke pangkuanNya,
meninggalkan banyak pelajaran yang belum terurai dan tertuang.

Monday, January 01, 2007

New Year

Only a night from old to new!
Never a night such changes brought.
The Old Year had its work to do;
No New Year miracles are wrought.

Always a night from old to new!
Night and the healing balm of sleep!
Each morn is New Year's morn come true,
Morn of a festival to keep.
All nights are sacred nights to make
Confession and resolve and prayer;
All days are sacred days to wake
New gladness in the sunny air.
Only a night from old to new;
Only a sleep from night to morn.
The new is but the old come true;
Each sunrise sees a new year born.

Sunday, December 10, 2006

Warung Kopi

Ketika kopi aku pesan ...
Ketika rokok aku nyalakan...
Suara itu menggelegar ....
Kamu sih ... kata si tukang kopi ...

Keluh kesah mebahana ...
rintihan hidup terraup ...
Kesan kasmaran terbentang dalam radius langit ...
Bapak sih .. kata si tukang kopi ...

Ketika kopi ku minum ...
hangat dan manis.
Ketika rokok ku hisap ...
Tersentak aku dalam batuk.
Apa makna semua ini??
Harus aku renungkan dalam perjalanan pulang.

Friday, November 03, 2006

Listening to the Rain

When I was young I listened to the rain
On the Towers of Song:
Red Candles glowed through thin gauze curtains,
Bedroom curtains, all night long.

In my prime of life I listened to the rain
On the roof of a boat:
From the westering wind a wild goose echoed
The exile's anguish dumb in my throat.

Now that I'm old I listen to the rain
On the temple tiles:
Hair flecked with white, I sit and wonder
Why meetings, partings, tears and smiles
Prove in the end to have had no meaning.

It is nearly day.
I sit and listen as the rain's pit patter
On the steps below me dies away.

The Lonely Pass

The Sun was setting as I struggled
Up to this mountain-pass
Where, for a grip between bare rock,
Stun trees and ragged grass
Struggle with the same dry fierceness
As, between their dry
Leaves, the few small flowers strain
For a smidgin of the sky.

Listening to the nightjars call,
I think I understand
The sadness in all exiles,
That need for a native land
Which, all around me, francolins
Repeatedly insist
In voices tired with homelessness
Must, known or not, exist.

I stand here halted. Suddenly
These things at which I stare,
Sky and mountain, once so loved,
Are seen as solely there
As images on whose half-truths
I need no more rely.

My native land is loneliness,
My only need is I.

invisible

Along the seat-aisle of the jumbo-jet,
As though this weren't the first time we had met,
Her smile advances. Jauntily tipped up,
A navy-blue sailor's hat and in her hand
Whisky-and-water in a plastic cup.

"It's very wide", she says, "a heath-like land
And the light like a Fra Angelico." So shy
Her side-slipped smile and her chuckle shadowed by
Regret not sooner to have helped one there.

"Why not write me a letter," cheekily I say,
"Giving, with pictures, details of your air?"

"Why not," she answers, "join me right away?"

Outside, below eye-level darkly spread,
The cloud-sea pinks with morning's rising red.

"I have terrible jet-lag. Dopey, I can't even
Sneak into my daughter's dream." She is close to tears.

Through the window, slowly, nerve-wracked into heaven,
With her cap and her plastic cup, she disappears.

Thursday, November 02, 2006

In Camera

This eye the lens, this blink the shutter,
Mine is a darkroom roofed with hair:
And, for that reason, I've no need
To carry a camera anywhere.

Can you conceive how many studies,
Each of you, I there keep stored?

Your laughing faces in leaf-rinsed sunlight;
Your bodies like a chestnut board
Laid across waves; your heads and hands
Focused to light a cigarette;
And here your child-like orchid-scented
Slumber in the shadow-wet
Woodlands where yourselves as lion
Lived, and in my record lives.

The world has only one such secret
Film-bank of your negatives.